Kususun Kertas Warna

Kususun kertas warna-warni itu setahap demi setahap Kugabungkan rasa, khayalan dan pemikiran dalam setiap langkahnya Sekuntum demi sekuntum bunga kertas itu kuhimpun Meskipun harus melampaui rasa sakit dan airmata berderai Namun kuselesaikan kelopak demi kelopak Bunga-bunga perdamaian yang kujanjikan padamu

Seribu bunga….bukan hanya parfum seribu bunga 

Disana…sementara kau menghimpun selongsong peluruSebutir demi sebutir kau kumpulkanDireruntuhan, dibekas pertempuran bahkan dilubang ranjauKaupun berani mempertaruhkan nyawa yang hanya satu iniDemi apa yang kau inginkanSeribu peluru sebagaimana yang kau janjikan padakuSeribu peluru yang hendak kau persembahkan padaku.

Akhirnya terpungkaslah aku membuat seribu bungaAku berhasil, berhasil merangkai seribu bunga yang indahMeskipun tidak wangi dan wanginya bukan yang asliNamun aku percaya, sebagian hatiku tertinggal disanaTerbagi menjadi seribu, bersenyawa disetiap kelopaknyaMeresap disetiap helai daun kertasnya, dan tangkainya 998….999…1000!

Disana engkau juga selesai menghimpun peluru ke-1000 Peluru-peluru yang siap merenggut nyawa siapa saja yang dikenainya Namun kau tampak tegar, kuat dan tidak mau menyerah Karena itulah perlambang negerimu saat iniNegeri yang terkoyak…. Tercabik-cabik oleh ambisi tanah perjanjian Ambisi sang adidaya

Jika boleh, kukirimkan seribu bunga ini untukmu Jangan kau kirimi aku seribu pelurumu Biarlah, biarlah seribu peluru itu tersimpan padamu Satukan saja bunga dan peluru tadi Kukirim saja seribu bunga iniTerpercik harum seribu bunga* Untuk meredam mesiu-mesiu durjana itu 

Jadikan saja keduanya satu…Seribu bunga dan seribu peluruTebarkan saja mereka kemanapun kau sukaSebagai lambang bersatunya dua kubuSebagai bukti kalau kita masih bertautanUntuk ditunjukkan kepada duniaBahwa engkau tidak sendiriMenghadapi kekejaman para adidaya